LENDAH KULON PROGO, 4/2/2020. Pentas wayang Cakruk Dinas Sosial DIY di Pendopo Balai Kalurahan Gulurejo pada Jumat (31/1) menarik perhatian warga karena membawakan lakon kekinian.
Baca juga: Lebih dekat dengan Ki Ageng Panggung
Pentas wayang menampilkan dalang Ki Sumarno dari Yogyakarta diiringi oleh gamelan komlit layaknya pentas wayang konvensional pada umumnya. Untuk menarik perhatian pengunjung juga ditampilkan bintang tamu yang membuat kemeriahan acara.

Pentas wayang cakruk terbukti efektiv untuk menyampaikan program-program pemerintah menggantikan cara penyuluhan konvensional lama.
Penyuluhan tersebut menjadi efektif ketika strategi yang digunakan berkesusaian dengan pola perilaku kelompok masyarakat ini. Diketahui, bahwa perilaku masyarakat menengah ke bawah memiliki ruang-ruang publik yang menjadi kunci perubahan sosial diantara mereka dimana mereka biasa mengakses informasi, pengetahuan dan bertukar pikiran. Ruang-ruang publik ini diantaranya adalah: pos ronda atau gardu ronda atau cakruk, jika ibu-ibu biasanya bertukar pikiran di warung sayur, arisan dan sejenisnya.
Perilaku yang terbentuk secara kultural di masayarakat lewat ruang-ruang publik ini jika dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah, tentu bisa berdampak pada perubahan masyarakat ke arah yang diharapkan. Disitulah kemudian tercetus gagasan tentang adanya wayang cakruk.
Mengapa wayang? Wayang sendiri berasal dari kata wewayangan atau bayangan. Refleksi dari kehidupan manusia baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Kesenian ini sudah akrab di Jawa dengan berbagai variannya dari yang tradisional seperti wayang kulit, wayang orang, wayang golek, sampai ke yang kontemporer seperti wayang kampung sebelah, dan yang digagas oleh Dinas Sosial DIY berupa wayang cakruk. Dengan pertunjukan wayang, masyarakat akan langsung paham bahwa nantinya mereka akan menyaksikan drama yang membawakan lakon tertentu.
Baca juga: Sobat Ngebyar Ki Seno Nugroho padati Ngentakrejo
Wayang cakruk, disebut demikian karena memotret kehidupan masyarakat yang berkumpul di cakruk dengan segenap persoalan yang ada diantara mereka. Wayang cakruk diadaptasi dari wayang orang yang kemudian diciptakan tokoh-tokoh yang menjadi potret manusia-manusia cakruk dengan berbagai profesi mereka. Sebagaimana diketahui, tokoh yang paling tinggi derajatnya tidak lebih dari lurah. Lakon yang dimainkan, tentu saja seputar PMKS mulai dari akar masalah sampai dengan solusinya yang dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menampilkan kesan lucu, polos, natural dan tidak berjarak dengan masyarakat yang menyaksikannya.
Memang, tidak ada yang salah dengan menggunakan medium pertunjukan wayang yang lain, tetapi pertunjukan wayang dipandang tidak akan efektif untuk memotret persoalan yang dituju. Disampin dari segi biaya pementasan yang mahal, dIlihat dari durasi wayang kulit yang harus “ngebyar”semalam suntuk, dan baru pada “goro-goro”, yaitu ketika punakawan muncul, persoalan sosial bisa disajikan. Bukan pada jalan cerita secara umum karena itu sudah ada pakemnya. Dengan menggunakan wayang cakruk, persoalan tersebut bisa relatif teratasi. (AWB)
Referensi:
Dinsos DIY