Agroindustri Pisang Raja yang Menggiurkan

LENDAH KULON PROGO, 26/12/2019. Menyaksikan kebun pisang raja di Pedukuhan Kasihan 1 Desa Ngentakrejo Kecamatan Lendah, menyiratkan asa optimisme bagi siapa saja yang melihat. Termasuk saya, sepertinya inilah tanda-tanda awal kebangkitan pertanian buah di Indonesia.

Hamparan hijau pohon pisang raja di lahan seluas kurang lebih 2 Ha dilihat dari jauh terlihat seperti hutan pohon pisang. Ribuan pohon pisang ditanam di tempat itu, mulai dari yang kecil baru tunas sampai yang sudah berbuah.

Baca juga: Mangga Jumbo 3 Kg/buah berbuah di Lendah

Cara menanamnya pun berbeda dari kebanyakan orang yang menanam pisang. Pohon-pohon pisang tersebut muncul dari balik gundukan tanah yang dibuat bedengan dengan selimut plastik mulsa hitam, praktis tak ada rumput yang hidup di sekitar pohon pisang tersebut. Pohon pisangpun leluasa tumbuh dengan optimal.

Dua orang tukang kebun tampak sibuk bekerja di lahan tersebut, satu orang sedang memupuk sambil memangkas pelepah kering serta tunas baru yang tidak diperlukan. Satu lagi sibuk menanam bonggol dan tunas pisang pada polibek yang sudah di sediakan.

Rohmat (30) salah satu dari mereka nampak ramah menerima saya, pun melayani pertanyaan demi pertanyaan yang saya ajukan.

Lahan tersebut mulai ditanami sejak kurang lebih 8 bulan yang lalu. Awalnya jenis pisang yang ditanam adalah; raja bulu, mas kirana dan cavendish. Seiring waktu berjalan ternyata pisang raja dan cavendish lah yang memiliki nilai ekonomi lebih baik sehingga dua jenis pisang ini yang dibudidayakan.

Pisang raja utuh satu tundun bisa mencapai harga Rp 300 ribu- Rp 500 ribu per tundun bahkan bisa lebih pada bulan-bulan tertentu seperti saat banyak acara hajatan. Sedangkan pisang cavendish memiliki konsumen yang rutin utamanya untuk pangsa supermarket.

Pohon pisang berbuah tak kenal musim sehingga hampir setiap hari dengan jumlah tanaman sebanyak itu selalu panen.

Selain dari buahnya, anakan pisang juga dapat dijual. Peminatnya banyak, bahkan sampai harus pesan jauh-jauh hari untuk membeli bibit pisang ditempat tersebut. Harga bibitnya bervariasi, mulai dari Rp 10 ribu sampai dengan Rp 25 ribu tergantung dari besar kecilnya pohon.

Dari satu induk pohon pisang, terdapat lebih dari 5 anakan yang bisa "didongkel" untuk dijadikan anakan dan di jual. 

Selain itu untuk mendapatkan bibit dalam jumlah banyak, Rohmad membuat tunas dari bonggol pisang. Bonggol pisang yang memiliki mata tunas ditanam pada media, setelah muncul tunas baru ditanam di polibek. Dari satu bonggol induk dapat menghasilkan bibit lebih dari 10 buah tergantung besar kecilnya bonggol.

Rohmat masih belum mau terbuka soal berapa uang yang dihasilkan dari kegiatan pertanian pisang tersebut. Ia menjawab diplomatis, "Boss saya yang tahu hitungannya Mas". Saya tak memaksa lebih jauh untuk tahu hitunganya, tapi saya yakin sangat menggiurkan.

Baca juga: Kambing PE masih menguntungkan

Mirip industri, hampir semua proses produksi menanam pisang dapat menghasilkan nilai tambah. Penjualan bibit mulai dari yang kecil sampai dewasa, jasa penanaman dan perawatan sampai produk akhir berupa buah pisang dapat menghasilkan uang. 

Selamat datang era Agroindustri buah di Kecamatan Lendah, semoga dapat terwujud masyarakat petani yang tangguh dan mandiri. (AWB)

 

Referensi:

Kireina Bonsai