Musim Hujan Tiba, Produksi Gerabah di Bumirejo Terganggu

LENDAH KULON PROGO, 19/12/2019. Musim penghujan yang diharapkan banyak masyarakat mulai datang, petani girang karena bisa menanami lahannya kembali. Namun tidak bagi para pengrajin gerabah di sentra industry Pedukuhan Senik Desa Bumirejo Kecamatan Lendah. Para pengrajin kesulitan memproduksi gerabah bila hujan datang.

Baca juga: Bakso Mewah Termurah di Kecamatan Lendah

Sebelum dilakukan pembakaran, semuanya harus dijemur di bawah terik matahari. Para perajin gerabah tradisional di Pedukuhan Senik bekerja dengan mengandalkan cuaca. Sarni salah satu pengrajin menceritakan, cuaca panas di musim kemarau membuat gerabah kering maksimal sebelum masuk ke pembakaran. Ia memasukkan ke pembakaran 1-2 minggu sekali.
Dalam satu kali membakar, Sarni bisa menghasilkan 100 gerabah beragam jenis namun pada saat musim penghujan ia membutuhkan waktu lebih lama untuk menjemurnya, kadang bisa sampai 2 minggu.

Hasil dari gerabah dirasa lumayan. Dalam satu kali pembakaran, ia mengatakan, pabrik pembakarannya bisa menghasilkan gerabah senilai Rp 800.000 - Rp 900.000. Bayangkan nilainya yang berlipat ganda dari awal hanya tanah lempung sebanyak 1 kendaraan pikap seharga Rp 250.000. “Susah nek rendeng niku. Nek ketigo lumayan setitik,” kata Sarni untuk menyatakan bagaimana susahnya pada musim hujan, tapi ketika kemarau justru lebih banyak rezeki.

Pedukuhan Senik sudah sangat lama menjadi daerah penghasil gerabah. Mantan perajin gerabah, Cipto Wiyono, 80 tahun, menceritakan perajin gerabah sudah ada bahkan jauh sebelum Jepang menjajah Indonesia. Ketika itu, orangtuanya sudah membuat gerabah beragam jenis. Cipto sudah tidak menghitung sebagai keturunan yang ke berapa sebagai perajin gerabah. Hampir setiap rumah membuat gerabah ketika itu. Gempa Yogyakarta pada 2006 mengubah segalanya. Gerabah bikinannya hancur. Cipto pun memutuskan beralih dari perajin menjadi pengepul gerabah. Ia kumpulkan gerabah dari perajin-perajin yang ada di dusun lantas menjualnya ke pasar.

Baca juga: Mie Ayam Ceker, Kuliner Legend harga kaki lima

Cipto memilih mengumpulkan gerabah para perajin lantas menjualnya ke pasar tradisional, seperti anglo yang berfungsi serupa kompor bahan bakar arang, pengaron untuk menampung air, dan kendil untuk tempat aruman atau ari-ari atau sering kendil digunakan untuk merebus jamu oleh masyarakat Jawa. Juga ada mandeng untuk tempat cucian. Bahkan, blengker sebagai pelengkap dari anglo. Ada juga ada celengan, teko, cangkir, hingga cowek atau cobek. Cipto membawa sendiri ke pasar dengan onthel, tergantung pasaran Jawa. “Kadang diangkut pakai Colt (angkutan desa),” kata Cipto.  Soal harga tentu berbeda sesuai ukuran besar kecil. Misal kendil Rp 10.000-Rp 15.000 per buah. Kemudian pengaron Rp 30.000-Rp 50.000 per buah. Keren Rp 15.000-Rp 22.000. Padasan Rp 30.000- Rp 40.000.

Cipto meyakini gerabah masih akan memiliki pangsa pasar sendiri sekalipun terdesak kompor gas. Apa yang membuat gerabah masih dicari? Cipto menggambarkannya secara sederhana. Katanya, selama orang masih makan sambal, gerabah tentu masih dicari dan dibeli. Ia pun tidak pernah putus asa. “Orang kan nyambel pakai cowek (cobek dari tanah liat),” kata Cipto dalam bahasa Jawa.

Saat ini setidaknya ada 30 pengrajin yang masih aktif memproduksi. Setiap hari rata-rata mereka memproduksi 15 hingga 20 gerabah.

Kegiatan mengolah tanah liat menjadi kerajinan ini telah berjalan sejak beberapa dekade yang lalu. Meski sama-sama terbuat dari tanah ternyata produksi gerabah Senik ini berbeda dengan Kasongan. Gerabah dari Kulonprogo ini dibuat menggunakan tanah lempung yang telah digemburkan.

Cara memproduksi terbilang masih manual karena bahan dicampur dengan hanya diinjak-injak. Ada hal unik dalam proses pembuatan gerabah yakni dimana ada proses pemadatan dengan cara dipalu. Bila proses pemadatan ini tidak dilakukan dengan baik bisa jadi kualitas akan berkurang. Sebaliknya bila dipukul melebihi kapasitas bisa jadi gerabah rusak.

Untuk mempercantik pada saat gerabah setengah jadi maka akan dipoles dengan tanah merah. Baru kemudian dirasa sempurna akan dibakar dalam kurun waktu sekitar 1 jam. Bila telah berubah warna dengan sempurna dan cantik maka produk ini siap dijual ke pasar. (AWB)

 

Referensi:

kompas.com

kanaljogja.id