Geliat Batik Lendah Kulon Progo, dari Buruh menjadi Para Boss...

Oleh : Sapardiyono, Komunitas Peduli Lingkungan, Alumni Fakultas Kehutanan UGM http://sapardiyono.blogspot.com/

 

Batik Lendah Kulon Progo, tidak pernah terdengar sebelumnya, “nyaris tidak terdengar” meminjam istilah iklan salah satu produk mobil.. atau dengan kata lain tidak punya eksistensi. Kalau kita menyebut batik maka yang terpikiroleh kita adalah sentra-sentra industri besar seperti Solo, Pekalongan, Yogyakarta dll. Benar bahwa Kecamatan Lendah Kabupaten Kulon Progo adalah bagian dari Wilayah D.I.Yogyakarta, namun tentu Batik Lendah Kulon Progo berkembang mencari eksistensi sendiri,menujujati diri yang khas, namun tidak meninggalkan sejarahnya sebagai salah satu bagian dari sentra batik di Yogyakarta.

Lendah, adalah salah satu nama Kecamatan di Kulon Progo di sebelah timur, keberadaannya menelusuri sisi Sungai Progo yang menjadi batas alam antara Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul. Wilayah Lendah relatif bergunung-gunung dan merupakan salah satu rangkaian pegunungan Kapur Selatan yang membentang lumayan panjang dari Pacitan Jawa Timur,Wonogiri, Gunung Kidul, sampai dengan Kebumen di Jawa Tengah. Akses ke Lendah dari Kota Yogya cukup baik. Jalan semua beraspal dan lumayan lebar, namun sulit dijangkau jika menggunakan angkutan umum. Jadi jika kita ingin mengunjungi Lendah untuk menyaksikan geliat sentra batik disana disarankan menggunakan kendaraan sendiri, baik mobil ataupun motor. Perjalanan dari Kota Yogya dapat kita tempuh dengan waktu sekitar 1 jam perjalanan.

Mungkin karena tanah yang kurang mendukung untuk kegiatan pertanian inilah yang mendorong para penduduknya banyak melakukan kegiatan diluar, pergi ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan atau menjadi buruh di berbagai industri di Kota Yogyakarta. Salah satu industri yang menjadi favorit untuk bekerja di Yogyakarta adalah menjadi buruh di sentra-sentra batik. Kegiatan menjadi buruh di sentra batik ini sudah dilakukan bertahun-tahun, bahkan seolah sudah turun-temurun.

Sejarah mulai berubah, para buruh batik itu bertekad mengubah nasib dan masa depannya. Industri Jamu jago yang amat hebat itu tidak pernah menduga ada kompetitor kecil yang menjelma menjadi raksasa Jamu Air Mancur, raksasa Jamu Air Mancur-pun tdk pernah menduga akan munculnya Sido Muncul yang dibangun dari bawah. Para buruh batik itupun bertekad akan mengubah dirinya menjadi para boss.

Menurut keterangan Suyono Sugondo, aktifis masyarakat yang mendampingi lahirnya asosiasi pengajin batik Lendah, titik balik kesadaran itu terjadi pada tahun 2008. Para buruh yang sudah sarat pengalaman itu ditarik pulang kampung dan “dipaksa” merdeka dan hidup diatas kaki sendiri untuk berproduksi menuju kemandirian. Sekalipun masih sunyi tapi geliat batik Lendah mulai terdengar, bahkan sebagian orang masih tidak percaya jika di kecamatan yang tandus itu, yang tidak pernah terdengar sebelumnya mulai tumbuh sentra batik.

Puncaknya adalah pada tahun 2010, ketika Pemkab Kulon Progo dalam upaya menumbuhkan iklim bisnis dan mengangkat produk lokal mewajibkan para PNS di semua instansi dan para murid sekolah dari TK sampai SMA menggunakan batik produk Lendah, Kulon Progo sebagai salah satu seragamnya di hari tertentu. BOOM.....!!!, para mantan buruh itu mendapatkan posisinya menjadi para boss. Usahanya berkembang sangat pesat. Pada awal perkembanngannya ada sekitar 14 orang yang merintis usaha batik ini, sekarang sudah ada 21 pengusaha yang bergabung di asosiasi pengusaha batik,dan masih banyak juga yang tidak bergabung dalam asosiasi tersebut. Saat ini rata-rata pengusaha tersebut mampu mempekerjakan pegawai antara 100 sampai dengan 150 orang.

Orderpun selalu mengalir sampai jauh....ke berbagai tempat di Indonesia, berbagai pemda di Sumatera dan Kalimantan seolah menjadi langganan.

Para buruh itu telah sukses mengubah dirinya menjadi para boss...

Sukses...selamat ya Boss...

 

Referensi:

Kompasiana.com

Foto dok. pribadi