"Banjaran Bimo" Lakon Wayang Kulit Memeriahkan Merti Desa Jatirejo Lendah

Minggu, 1 Juli 2018 01:12:28 - Oleh : a.wisnubroto

Deklarasi Pemilu Damai Kecamatan Lendah

Semarak Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2018

PENCAIRAN PERDANA BPNT KECAMATAN LENDAH

SEMARAK, PAWAI KARNAVAL KECAMATAN LENDAH

5 Cara Memulai Bisnis Online Untuk Pemula

 

LENDAH. Pernahkan Anda mendengar kata merti desa? Ya, semacam suatu upacara adat yang mungkin tak asing bagi kita. Tradisi yang saat ini masih terus lestari tak hanya menentramkan hati, namun juga memberikan kebanggaan atas ragam kekayaan budaya di negeri ini. Tradisi yang perlu terus dijaga kelestariannya agar tidak tergerus dengan tradisi-tradisi kekinian. Kita masih dapat menjumpai  tradisi ini walaupun tidak banyak lagi yang melakukannya, khususnya di Kabupaten Kulon Progo.

Merti desa, sering disebut juga bersih desa, hakikatnya adalah simbol rasa syukur masyarakat kepada Yang Maha Kuasa atas limpahan karunia yang diberikan-Nya. Karunia tersebut bisa berujud apa saja, seperti kelimpahan rezeki, keselamatan, serta ketentraman dan keselarasan hidup. Bahkan orang Jawa percaya, ketika sedang dilanda duka dan tertimpa musibah pun, masih banyak hal yang pantas disyukuri. Masih ada hikmah dan pelajaran positif yang dapat dipetik dari terjadinya sebuah petaka. Di samping itu, rasa syukur juga bisa menjadi pelipur sekaligus sugesti yang menghadirkan ketenangan jiwa.

Merti desa biasanya dilakukan pada bulan bulan tertentu, dalamm kalender jawa. Di Desa Jatirejo Lendah Kulon Progo, merti desa dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 2018. Acara tersebut juga dalam rangka halal bil halal warga masyarakat Jatirejo karena kebetulan merti desa tahun ini momentnya bebarengan dengan bulan syawal. Silaturahmi, guyub, rukun, gotong royong, kebersamaan, keakraban, tepa selira dan harmonis adalah sebagian dari sederetan kosakata yang begitu tepat dan saling menjalin makna saat menggambarkan bagaimana suasana yang terpancar dari berlangsungnya tradisi merti desa. Acara merti desa tahun ini dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dalang Ki Bambang Lungit dari Bantul dengan mengambil lakon Banjaran Bimo.

Selain menjadi perujudan rasa syukur, upacara merti desa acapkali juga terkait dengan ritual penghormatan kepada leluhur, sehingga menghadirkan berbagai ritual simbolik terkait dengan tokoh dan riwayat yang diyakini menjadi cikal bakal keberadaannya. Semuanya dilakukan dengan tetap memanjatkan doa dan permohonan kepada Yang Maha Kuasa demi keselamatan, ketentraman, kesejahteraan dan keselarasan hidup seluruh warga desa.

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak