Sesek dan Gethek Jembatan Penghubung Dua Kabupaten

Jum`at, 8 Juni 2018 10:53:50 - Oleh : a. wisnubroto
 


Jembatan bagi warga masyarakat merupakan sarana yang sangat penting, untuk menghubungkan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup. Bagi masyarakat sekitar Lendah dan Pajangan tentu tidak asing dengan istilah Sesek dan Gethek. Keduanya adalah sarana penghubung pengganti jembatan permanen yang sudah ada tetapi terbuat dari peralatan yang sangat sederhana. Tepatnya antara dusun Temben Ngentakrejo Lendah Kulon Progo dengan dusun Manukan Pajangan Bantul.

Walaupun sederhana, keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Dibandingkan dengan melewati Jembatan permanen Srandakan maupun Bantar, maka melewati Sesek maupun Gethek walaupun dengan resiko lebih besar, masyarakat sekitar akan tetap memilihnya karena selain hemat waktu dan jarak,  melewatinya merupakan pengalaman yang mengesankan.

Sesek, adalah sebuah jembatan tradisional terbuat dari bambu. Warga membuat sesek saat musim kemarau mulai datang biasanya bulan Mei atau Juni saat air sungai mulai surut sehingga jumlah material jembatan yang dibutuhkan tidak terlalu banyak dan tidak terlalu membahayakan bagi penggunanya. Walaupun tidak terlalu banyak tetapi karena jembatan di buat di atas sungai Progo yang lebar maka, tetap dibutuhkan material yang ektra. Dibutuhkan waktu sekitar 2-5 menit untuk menyeberangi sekitar 80 meter sungai Progo dengan alat ini. Jembatan tersebut ini akan mengaakhiri tugasnya saat musim penghujan datang, dimana debit air Sungai Progo sudah mulai banyak.

Gethek, adalah rakit/perahu sederhana yang terbuat dari anyaman bambu utuh. Fungsinya sama, menjadi penghubung bagi warga diantara dua daerah, cara operasinya yang berbeda. Gethek dinahkodai oleh 2 orang, satang namanya, mengendalikan di ujung rakit agar rakit bisa dikendalikan. Rakit dengan panjang sekitar 10 meter dan leber 3 meter tersebut digerakan dengan 2 bilah bambu/galah yang dikendalikan oleh 2 satang tangguh tersebut. Setelah penumpang naik di atas rakit maka satang akan mendayung galahnya, dan satang yang satu mengarahkan kepada dermaga sederhana dimana perahu tersebut akan berlabuh. Butuh waktu 10-15 menit untuk menyebrangi sungai Progo dengan Gethek, tetapi itu jauh lebih efisien dibanding memutar melewati jembatan permanen di Srandakan maupun Bantar. Gethek beroperasi saat musim penghujan saat debit air Sungai Progo mulai banyak dan mengakhiri tugasnya saat kemarau datang.

Kapan Sesek dan Gethek mulai ada di tempat tersebut? Keberadaannya sudah puluhan tahun, sulit memastikan kapan pertama alat tersebut mulai ada, tetapi menurut cerita yang beredar di masyarakat, dua alat itu sudah ada sejak zaman kemerdekaan, bahkan lebih lama lagi. Sejak masyarakat mulai memikirkan bagaimana menyeberangi sungai tersebut dengan selamat dan lebih cepat maka alat itu diciptakan.

Pengguna alat itu adalah warga masyarakat sekitar, dari pelajar, pekerja, petani, pedagang ataupun masyarakat yang hanya sekedar ingin menikmati suasana melewati sesek maupun menggunakan gethek tersebut.

Jembatan tersebut dibuat oleh masyarakat sekitar dan dengan iuran/sumbangan seiklasnya yang juga dari masyarakat sekitar, semua biaya hanya berasal dari masyarakat sekitar yang memang peduli terhadap keberadaan jembatan alternatif tersebut, yang memang keberadaan dari adanya jembatan itu benar-benar sangat dirasakan oleh masyarakat setempat. Selain hal itu, setiap pengguna jembatan juga dikenai biaya Rp 3.000,- untuk masyarakat umum dan Rp 2.000,- untuk pelajar.

Entah sampai kapan Sesek dan Gethek ini akan bertahan, yang jelas selama masyarakat masih membutuhkan dan belum ada pengganti sarana lainnya, kedua alat itu akan terus bertahan. Sampai sekarang pun masyarakat masih tetap setia menggunakan akses jembatan alternatif tersebut karena memang benar-benar bisa menghemat tenaga, waktu, maupun biaya. Sarana pengganti sedang dibangun, yakni Bendungan Kamijoro tapi sebelum bendungan tersebut dapat digunakan tentu kedua alat ini masih akan dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Sungguh Sesek dan Gethek adalah jembatan penghubung dua Kabupaten yang bermanfaat yakni Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul.

« Kembali | Kirim | Versi cetak